ANTIHISTAMIN II

 ANTIHISTAMIN II 

Turunan Propilamin dan Turunan Fenotiazin

Sebelumnya kita sudah membahas Antihistamin I yaitu turunan Etilendiamin dan Turunan Kolamin, Pada bahasan kali ini kita akan melanjutkan ke Antihitamin II yaitu  Turunan Propilamin dan Turunan Fenotiazin, yaitu sebagai berikut :

Menurut Cartika ( 2016 ), turunan antihistamin II salah satunya yaitu turunan Propilamin dan Turunan Fenotiazin, yaitu sebagai berikut :

1. Turunan Alkil Amin ( Propilamin )

Golongan ini termasuk dalam antihistamin II. Turunan ini merupakan antihistamin dengan indeks terapetik cukup baik dengan efek samping dan toksisitasnya sangat rendah, serta kelompok ini memiliki daya antihistamica kuat.

Rumus umum : Ar (Ar’)CH-CH2-CH2-N(CH3)2

Hubungan struktur antagonis H1 dengan turunan alkil amin dijelaskan sebagai berikut :

a) Feniramin maleat, merupakan turunan alkil amin yang memunyai efek antihistamin H1 terendah.

b) CTM, merupakan antihistamin H1 yang popular dan banyak digunakan dalam sediaan kombinasi.

c) Dimetinden maleat, aktif dalam bentuk isomer levo.

Salah satu contoh obat dari turunan ini yaitu Chlorpheniramine Maleat, menurut Tjay dan Rahardja ( 2002), farmakodinamik dan farmakologi dari Chlorpheniramine Maleat yaitu sebagai berikut :

Farmakodinamik

Mekanisme kerja dari obat ini sebagai antagonis H1,yaitu berkompetisi dengan aksi histamin endogenus, untuk menduduki reseptor - reseptor normal H1 pada sel - sel efektor di traktus gastrointestinal, pembuluh darah, traktus respiratorius, dan beberapa otot polos lainnya. Dimana efek antagonis dari obat ini akan menyebabakan berkurangnya gejala bersin, mata gatal dan berair, serta pilek pada pasien. 

Farmakokinetik chlorpheniramine maleat sebagai berikut :

-          Absorbsi

Diabsorbsi baik setelah di konsumsi per oral. Bioavailabilitas sekitar 25 - 50 %. Konsentrasi puncak tercapai dalam 2 - 3 jam dengan masa kerja sekitar 4 - 6 jam.

-          Metabolisme

Dimetabolisme di hepar, melalui enxim sitokrom P450 ( CYP450 ), merupakan salah satu obat yang menginduksi enzim mikrosomal hepatik dan dapat memfasilitasi metabolismenya sendiri.

-          Distribusi

Sekitar 72 % chlorpheniramine dalam plasma darah terikat dengan protein.

-          Eliminasi

Waktu paruh obat dalam plasma darah bervariasi sekitar 12 - 15 jam hingga mencapai 25 jam, dapat juga berdurasi 3x lebih lama daripada terapeutiknya. Sebagian dikeluarkan oleh tubuh melalui urine.

-          Dosis

Dewasa per oral tablet 4 mg tiap 4 - 6 jam

Dewasa per oral tablet lepas lambat 8- 16 mg tiap 8 -12 jam bila perlu

Dosis maksimum 32 mg/hari

2. Turunan Fenotiazin

Selain mempunyai efek antihistamin, golongan ini juga mempunyai aktivitas tranquilizer, serta dapat mengadakan potensiasi dengan obat analgesik dan sedatif.

Hubungan struktur antagonis H1 turunan fenontiazin dijelaskan sebagai berikut :

a.       Prometazin, merupakan antihistamin H1 dengan aktivitas cukupan dengan masa kerja panjang.

b.      Metdilazin

c.       Mekuitazin. Antagonis H1 yang kuat dengan masa kerja panjang dan digunakan untuk memperbaiki gejala alergi

d.      Oksomemazin, mekanismenya sama seperti mekuitazin

e.       Pizotifen hydrogen fumarat, sering digunakan sebagai perangsang nafsu makan.


Salah satu contoh obat dari turunan ini yaitu Promethazine, menurut Tjay dan Rahardja ( 2002 ), farmakodinamik dan farmakologi dari Promethazine yaitu sebagai berikut :

Farmakodinamik

Mekanisme kerja dari obat ini yaitu derivat fenotiazin dengan efek antidopaminergik yaitu blocker reseptor dopamin mesolimbik dan reseptor alfa adrenergik di otak. Obat ini digunakan sebagai antialergi untuk memerangi hay fever ( alergi rhinitis ), yang digunakan untuk mengobati reaksi alergi dapat diberikan sendiri atau dalam kombinasi dengan oral dekongestan seperi pseudoeferdin.

Farmakokinetik Promethazine sebagai berikut :

-          Absorbsi

Diabsorbsi baik setelah di konsumsi per oral. Bioavailabilitas sekitar 25 %. Efek antihistamin 20 menit. Puncak waktu serum 4,4 jam.

-          Metabolisme

Dimetabolisme oleh P450 hati enzim CYP2D6

-          Distribusi

Sekitar 93 % terikat dengan protein.

-          Eliminasi

Waktu paruh obat dalam plasma darah bervariasi sekitar 15 - 30 menit dan maksimal setelah 1 - 2 jam. Sebagian dikeluarkan oleh tubuh melalui urine ( utama ), feses ( minor ).

PERTANYAAN

1. Bagaimana interaksi antara CTM jika dikombinasikan dengan obat herbal seperti jamu ?

2. Jelaskan interaksi antara Promethazine jika dikombinasikan dengan codein atau dekstrometorfan sampai membentuk suatu reaksi sehingga dapat digunakan untuk mengatasi batuk !

3. Sedasi berlebihan dapat terjadi ketika Promethazine dikombinasikan dengan obat lain yang menekan SSP, Jelaskan bagimana interaksi yang terjadi sehingga dapat menimbulkan efek sedasi tersebut !

DAFTAR PUSTAKA

Cartika, H. 2016. Kimia Farmasi Komprehensif, Kementruan Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Tjay, T. H dan Rahardja, K. 2002. Obat - Obat penting : Khasiat : Penggunaan dan Efek - Efek Sampingnya. Gramedia, Jakarta.


Comments

  1. Waah artikelnya menambah pemahaman saya, sangat bermanfaat, terimakasih 😊

    ReplyDelete
  2. hay emi terimakasih artikelnya sangat membantu, izin mencoba menjawab pertanyaan no 1
    sejauh ini belum ada penelitian untuk mengetahui apakah ada interaksi antara obat CTM dan obat herbal. Namun seperti yang kita ketahui bahwa obat herbal jarang berinteraksi dengan obat kimia apalagi jika digunakan obat CTM yang memiliki berlebel hijau atau biru , tidak masalah untuk digunakan secara bersamaan , namun ada baiknya jika memberi jeda antara pengkonsumsian kedua obat tersebut beberapa jam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyaallah terimakasih banyak yuhana,

      Benar, menurut yang saya baca, obat herbal juga memiliki aktvitas kimia yang dpat berekasi dengan obat generik lainnya jika dikonsumsi secara bersamaan. maka dari itu pengkonsumsian nya harus diberikan interval waktu agar tidak terjadi efek yang tidak di inginkan

      Delete
  3. Haiii, saya elvita.....
    Saja akan mencoba menjawab pertanyaan no 1
    Sebenarnya penggunaan obat herbal seperti jamu dengan kimia itu tergantung dari xat aktif dari tumbuhan herbal ada abat herbal jika digunakan dengan obat kimia dapat memberikan efek obat kimia tadi secara optimal tapi ada jga obat herbal jika digunkn dengan obat kimia akan mempengaruhi aktivitas dari obat CTM tadi, jadi yang terpenting itu apakah zat aktif dari jamu tadi terlebih dahulu apakah dia akan memberikan efek samping atau akan meningkatkan aktivitas dari ctm tadi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayyyy elvita, masyaallah, benar sekali elvita. Namun sangat di sarankan untuk memberikan interval waktu antara konsumsi obat herbal dengan obat generic. Karena menurut buku yang saya baca, obat generic dan obat herbal memiliki banyak perbedaan dalam waktu paruh, dikhawatirkan jika dikombinasikan tidak memberikan efek terapi yang maksimal melainkan dapat menuju sel target yang tidak di inginkan dan ginjal terlalu banyak mengabsorbsi obat sehingga disarankan untuk tidak mengkonsumsi obat herbal dan obat generic secara bersamaan:))

      Terimakasih banyak elvita, semoga kita bisa mengupgrade ilmu seatu sama lain yaa:))

      Semoga bermanfaat

      Delete
  4. Hallo Emi, terimakasih sudah berbagi pengetahuan
    disini saya akan menjawab pertanyaan no. 2

    ketika sedang mengalami batuk yang dirasakan oleh pasien bukan hanya sekedar batuk tetapi ada juga gejala lain yang menyertainya seperti pilek, gejala alergi serta hidung tersumbat. karena hal inilah obat batuk dikombinasikan dengan obat antihistamin. manfaat dari obat batuk yang dikombinasikan dengan antihistamin ini adalah untuk mengatasi batuk yang disertai dengan gejala alergi seperti bersin-bersin atau gatal pada hidung dan tenggorokan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyaallah terimakasih banyak kakak atas jawaban serta sanggahan nya:))

      Delete
  5. Haii emi, artikelnya sangat bermanfaat sekali. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 1.
    Ketika sedang mengkonsumsi CTM sebaiknya tidak disarankan bersamaan dengan jamu karena akan mengubah mekanisme adsorbsi dari obat CTM itu sendiri. Selain itu saat mengkonsumsi jamu juga tidak diperkenankan mengkonsumsi obat-obatan kimia karena akan menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyaallah, benar sekali kak. Karena menurut buku yang saya baca jamu berasal dari tanaman tunggal ataupun campuran yang setiap tanaman nya memiliki aktivitas kimia yang berbeda beda. Jika dikonsumsi dengan obat generic maka akan mengubah ataupun berkontra indikasi dengan efek terapi baik dari jamu maupun obat generic sehingga dapat menimbulkan efek toksik bagi tubuh jika dikombinasikan.

      Terimakasih banyak kak atas tanggapannya,
      Semoga bermanfaat :))

      Delete
  6. Replies
    1. Masyaalaahh semoga bermanfaat kakak:))

      Share ya manatau bermanfaat bagi yang lainnya

      Delete
  7. Terima kasih kak informasinya sangat bermanfaat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kembali dekk, jangan lupa kembali yaa hehe

      Delete
  8. Replies
    1. Masyaallah terimakasih banyak kakka, semoga dapat memberi titik terang yaa heheh:))

      Delete
  9. Terimakasih infonya sangat bermanfaat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kembali kakak, jangan lupa staytune postingan berikutnya kakak

      Delete
  10. Replies
    1. Masyaallah terimakasih banyak sudah menyempatkan membaca yaa:))

      Delete
  11. Terimakasih banyak ilmunyaa kakaaak ❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uwaaahh terimakasih kembali yaa:)) jangan lupa kembali wkwk

      Delete
  12. Terimakasih ilmunya. Sangat bermanfaat dan menambah wawasan. Selalu bermanfaat bagi banyak orang ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insyaallaahh kakak, terimakasih banyak yaa sudah menyempatkan waktu membaca:))

      Delete
  13. Setelah membaca artikel ini pengetahuan saya bertambah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyaallahhh semoga bermanfaat yaa kak

      jangan lupa di amalkan hehe

      Delete
  14. Replies
    1. Awww terimakasih banyak kakak kece, jangan lupa berkunjung lagi yaa:))

      Delete
  15. Terimakasih kembali kakak

    Terimakasih sudah berkunjung

    ReplyDelete

Post a Comment